Diskusi Lanjutan Tentang Rajam (Harus Dibaca Ya!)

{To my English speaking subscribers, please  skip this one, it will be in my National language : Indonesia…}

Saya memuat posting “Death by Stoning in Islam” beberapa waktu lalu. Hari ini postingan tersebut mendapat perhatian dari salah satu pengguna facebook, yang (dengan nyamannya) tidak memakai nama aslinya, dan tidak memasang foto dirinya.

Diskusi yang tadinya sedikit bermutu berubah menjadi diskusi yang tidak bermutu sama sekali, dimana banyak pihak hanya mengeyel tanpa mengutip dalil-dalil baru dari Al-Quran.

Sebagian besar hanya meng-kopi-paste dari artikel-artikel yang ditemukan di tempat yang bermacam-macam.

Saya dikatai memiliki “otak rusak” akibat postingan saya tersebut. Astaghfirullah… sungguh penilaian yang pedas, apa lagi datang dari orang yang semestinya tau lebih baik tentang Islam (dari pada saya lo… hehe)

Berikut saya lampirkan print screen dari hasil diskusi tersebut.

Peringatan: Diskusi yang sangat… sangat… sangat… panjang. 😀

Bapak-bapak, ibu-ibu, silakan membuat secangkir teh hangat, sebaskom popcorn asin, dan silakan dibaca… (take your time!)

Eits… tunggu dulu…! ternyata diskusi belum bisa berhenti. Ini lanjutannya: (ayo tarik nafas panjang….) 🙂

Sudah… diskusi yang berlangsung dalam profile saya alhamdulillah berhenti di situ… Tapi ternyata, diskusi terus berlanjut di profil Ummu Hafizh. Berikut dokumentasinya:

Aduh, panjang ya…? Hehehe… siapa yang mengira kalo diskusi ini bisa jadi sedemikian panjangnya padahal yang dibahas cuma itu-itu saja… 🙂 Sayang sekali, ini belum berakhir… masih ada lanjutannya: (ayo tarik nafas panjang lagi!)

Apa bapak-bapak dan ibu-ibu sudah mulai capek? Tolong sabar ya… tinggal satu screen capture lagi kok… 🙂

Sampai saat saya menulis posting yang ini, diskusi di profile Ummu Hafizh berhenti di situ. Mungkin nanti ada kelanjutannya, tapi saya belum tahu. 🙂

Ya… ya… ya… semua argumen yang dipersembahkan pada saya bisa dianggap valid.

Fiuh…. *mengelap keringat di dahi dan di ketiak*

Saya harus mulai dari mana ya? Tidak pernah saya membayangkan akan dihakimi dan dikata-katai oleh orang-orang yang tidak saya kenal di facebook. Mungkin saya kenal, tapi namanya tidak ada yang pakai nama asli, dan semua tidak ada fotonya. (Apa ini kebetulan?)

Kalau pembaca sekalian sudah membaca komentar-komentar tersebut di atas, terlihat jelas kalau mereka semua… sekali lagi… SEMUA… menganggap saya ini orang yang bodoh. Yang tidak pernah baca Al-Quran, tidak pernah baca tafsir, tidak pernah baca kitab-kitab hadist, dan lain-lain…

Bahkan ada yang mengatakan bahwa saya tidak bisa mengerti bahasa Indonesia, boro-boro bahasa arab. Hehehehe…

Diskusinya jadi ngalor ngidul. Tapi biarlah, saya punya pemahaman sendiri mengenai agama saya ini… saya punya metode pembelajaran sendiri yang orang-orang di atas pasti sulit mengerti.

Mereka mau menganggap saya buta, dan berotak rusak, kan hak asasi mereka. Mau menganggap saya sulit berbahasa, juga terserah mereka. Untuk saya, cukuplah fakta bahwa Tuhan Maha Mengetahui.

Tuhan yang bisa menghakimi saya dengan adil. Betul tidak?

Saya sudah sering berdiskusi dengan ustadz-ustadz mesir lulusan Al-Azhar, dengan muslim-muslim dari Iran, Lebanon, Moroko, etc…

Saya bangga menjadi muslim yang berpendidikan dan mau berpikir. Mau berusaha dan mencari kebenaran sendiri. Bukan yang sekedar datang ke pengajian dan selalu mantuk-mantuk pada apa yang dikatakan pak imam sambil membuat catatan-catatan kecil di dalam buku tulis saya.

Saya tanya semua orang, saya pernah mengirimkan surat ke Quraish Shihab, dan sekarang sedang menulis surat ke Presiden Ahmadinejad di Iran.

Saya melaksanakan pesan yang terkandung dalam ayat pertama yang diturunkan pada Muhammad: “Iqra”. Saya belajar, dengan pemikiran terbuka, dan saya tidak akan berhenti sampai nyawa saya dicabut oleh Tuhan.

Saya berpikir sendiri, dengan bekal kitab-kitab yang saya percaya, kemudian saya menanyakannya pada orang-orang yang berpengetahuan lebih.

Saya nggak sekedar menuliskan di facebook saya: “Hei… tolong bantuin aku dong… aku gak bisa beragumentasi sama orang ini…” dan kemudian mendapatkan segerombolan kawan-kawan saya yang siap mencerca siapapun yang berpikiran berbeda.

Kapan dan di mana “lakum dinukum waliyadin” bisa dilaksanakan?

Dian Retno Wulandari. Tuhan Maha Mengetahui.

PS: Apparently, kalau mau termasuk golongan muslim yang baik, kita harus lebih sering menggunakan kata-kata arab. Seperti : ummi, abi, ikhwan, akhwat, ana, anta, etc…

PPS: “Siap pak polisi…!! Saya juga mengaku bersalah atas ketidakbermutuan thread facebook di atas!” 😀

Death by Stoning in Islam

( = Hukum Rajam Dalam Islam)


There is no such a thing in Islam.

Sorry to disappoint y’all. Whoever says that in the sharia it is ruled that adulterer should be stone to death is telling a big fat horse shit (pardon my latin).

Today I came across the synopsis of The Stoning of Soraya M, such a sad thing to read. The gloominess that engulfed my mind made me think, “Why don’t I remember anything about stoning when I read the Qur’an that so many times?

So I put my laptop down and started looking for the Quran. Quickly I flicked my fingers between the Index Pages looking for ‘stoning’ or ‘rajam’.

None.

Then I put down the one Quran and went on to the next one, hoping that the other Quran would have a better Index list. But stil, nil, nada, zip, mum, zero, nol besar.

I didn’t have time to read the Quran from cover to cover, so I decided to consult master Google instead. Still, my search for stoning in Quran came back with nothing.

So that’s it…!! If it is not in the Quran, then it is not part of Sharia.

The Quran does mention some forms of punishment for adulterer, but never by stoning.

But another question arises: “Where did this whole death-by-stoning-for-adulterer in Islam come from?”

After another further research, I found out that the ‘law and custom’ of stoning adulterer to death was long embedded in the Arabic culture by the time the Islamic teaching arrived (Islam arrived around year 600). Such stoning custom had/has been there as early as the time of Abraham –about 2500 years before Islam.

The Muslims in those days, were stuck in their old custom ways… went on stoning people for committing adultery. Many hundred years down the stream, this death by stoning rite is made identical with the Sharia laws. But it is not!

There is no evidence that death by stoning is part of the Sharia. If anyone of you disagrees please quote something from the Qur’an that states otherwise.

I am thinking about writing a letter to the Iranian President,  Ahmadinejad, regarding the matter. He can have stoning as his law but must not declare it as Sharia law. Better still, he can’t have stoning as any law.

Do you think it is safe for me to do so? Or will he just send a nuke down to Ghana as a reply to my letter?

Dian Retno Wulandari.

PS: Forms of punishment for adulterer mentioned in the Qur’an include: 50 lashes, 100 lashes, or 200 lashes (if the offender is a wife of a prophet than she gets 200 lashes –Ouch…!). Other forms of punishment is exile, or nothing at all –if it was forced upon them or if the offender did so out of ignorance or if they repent straight afterward.

PPS: To justify the application of any kind of punishment, 4 witnesses must testify against the offender and made an oath before a Judge that they indeed witnessed the lewd act performed.